Ayo Menggambar..!

Dua tahun terakhir saya mengajarkan dasar-dasar menggambar mulai dari TK hingga siswa SMU. Hal ini didasari keingintahuan saya akan output dari proses hulu-hilir pelajaran menggambar.

Meminjam istilah sahabat saya Pak Botaksakti, menggambar hanyalah tool, bukan tujuan. Jika ada yang berbakat atau berminat menekuninya, mereka diarahkan ke kegiatan ekstra kurikuler.

Menggambar sama halnya seperti menulis.Keduanya adalah output. Inputnya adalah lingkungan. Seberapa dalam proses pengamatan dan seberapa aktif interaksi dengan lingkungan akan terlihat pada hasil, dan menjadi rekam jejak. Menggambar adalah proses.

Kuncinya adalah proses kerja otak. Pertanyaan terbanyak dalam pelajaran ini adalah  ” Pak, saya TIDAK BISA menggambar.” Solusinya adalah sugesti. Di TK dan SD, mereka biasa meneriakkan yel “Aku bisaaaa..!” dan tak lupa memuji semangat mereka dalam berkreasi serta membuat display untuk karya mereka yang sudah jadi selama satu minggu.

Sedangkan untuk siswa SMP dan SMU mereka kerap diajak berdiskusi, membahas kata ‘tidak bisa’, memberi beberapa ilustrasi bagaimana otak bekerja dengan mengaitkan satu informasi dengan informasi lainnya atau bermain sulap.

Secara umum, ada dua cara belajar menggambar : berbasis imajinasi dan berbasisi pengamatan. Sayangnya, yang pertama mendapat porsi terlalu banyak. Padahal keduanya seperti otak kanan dan otak kiri ; akan lebih optimal jika seimbang. Imajinasi bersandar pada pola berpikir divergen, sedangkan pengamatan bersandar pada pola pikir konvergen.

Menggambar di ruang terbuka adalah hal  yang perlu dilakukan. Mintalah pada mereka untuk menggambar satu obyek yang paling menarik perhatiannya lalu amati setiap detilnya. Jika obyeknya pohon, ingatkan mereka untuk teliti ( dalam mengamati ), sabar ( dalam mengerjakan ) dan jujur ( menyampaikan fakta ). Kegiatan mereka memperlihatkan begitu banyak ekspresi : tenang, percaya diri, ragu-ragu, putus asa,penasaran, menarik garis hanya sekali, ada yang berkali-kali, ada yang gambar-hapus gambar-hapus. Dalam kondisi seperti itu, guru berperan sebagai fasilitator, motivator sekaligus sahabat bagi siswa. Sebuah pengalaman belajar yang berbeda. Proses belajar berlangsung.

Esensi dari kegiatan ini adalah membangun rasa percaya diri siswa yang akan membentuk kepribadiannya, kepribadian yang dibentuk tidak hanya berdasarkan faktor hereditas tetapi juga lingkungan ( Elizabeth B Hurlock, Child Development; McGraw-Hill Inc, 1978 ). Rasa percaya diri yang baik akan membentuk konsep diri yang juga baik. Kelak, konsep diri inilah yang akan membentuk mentalnya.

Tahun ajaran kemarin, setiap hari Rabu minggu pertama dan ketiga beberapa guru berkumpul di sekolah saya untuk share tentang dasar-dasar menggambar ; membuat corat-coret sederhana yang bisa membantu siswa dalam memahami beberapa pelajarannya. Media belajar visual dua dimensi ini cukup membantu mereka memvisualisasikan narasi yang kadang membuat beberapa siswa bingung. Kamibiasa memulainya dari fun drawing ; menggambar pada sisi kanan otak kita. Membuat obyek gambar dari angka dan huruf adalah kegiatan corat-coret dasar biasa yang efeknya luar biasa. Semua berawal dari titik. Titik yang berbaris akan menciptakan garis. Garis-garis bersambung menciptakan bidang dan perpaduannya akan menciptakan bentuk.

Menggambar adalah ‘make up’ psikologis. Yuk..menggambar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s