Sampai mati belajar Calistung

Saya selalu tertarik dengan filosofi konsep calistung : Membaca, Menulis, Berhitung. Kata ‘menulis’ diapit oleh kata membaca dan berhitung ( malah menurut saya, menulis itu middle name-nya guru). Selesai membaca situasi dan memperhitungkan keadaan, seseorang dianjurkan untuk menulis.

Sebagai makhluk sosial, bagaimana mungkin kita tidak membaca lingkungan ? sebagai guru, bagaimana mungkin kita tidak membaca kondisi kelas ? kondisi siswa ? bukankah kita harus berhitung : jika satu kekurangan ini kita tambah dengan tiga kelebihan hasilnya sama dengan dua harapan ?!.

Tugas utama kita sebagai guru adalah mengajar, namun bukankah hakikatnya adalah mengajar ? caranya ? dengan menempatkan dirinya menjadi siswa pertama di  kelas….,lalu semuanya ditulis dalam catatan harian, catatan pinggir, diary atau entah apapun namanya. Hampir di setiap workshop, saya selalu memberikan games kecil: saya bagikan dua lembar kertas origami ke setiap peserta. Kertas pertama dibuat menjadi kapal terbang atau origami lain yang mereka bisa. Kertas kedua hanya diremas menjadi gumpalan kertas, menjadi sampah. Penutup, saya berikan pertanyaan ,: ” Mengapa dua benda yang sama (kertas) menjadi dua karya yang berbeda ? Mengapa yang satu menjadi sebuah karya dan yang satunya menjadi sampah ?”.

Biasanya saya sisipkan ayat dari Al Quran yang menyatakan bahwa kerusakan di bumi ini adalah akibat ulah TANGAN manusia. Logikanya, jika tangan ini yang merusak,maka tangan ini pula yang memperbaiki, dan menulis adalah salah satu solusi.Menulis bisa mewadahi kata-kata yang sulit terucap oleh lidah.

Calistung disatukan oleh ikatan yang bernama pikiran. Dari sana semua berasal. Calistung berada pada semua ranah yang disebutkan Benjamin S. Bloom dalam taksonominya : ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Membaca  membutuhkan keterampilan merangkai huruf menjadi kata untuk kemudian memahaminya. Menulis membutuhkan sense dan emosi dalam prosesnya. Berhitung memerlukan gerak tubuh  ( turun ke lapangan ) dan pada saat bersamaan mengkombinasikannya dengan kognisinya.

Belajar adalah proses seumur hidup, itu sebabnya kita baru berhenti jika kita sudah mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s