SAMPAH ADALAH SUMBER DAYA : KESERAGAMAN PARADIGMA DALAM KEBERAGAMAN

Tanggal 24 – 27 Mei 2011 berlangsung acara Green Week ke-11 di kota Brussel. Konferensi tahunan masyarakat Eropa untuk lingkungan tahun ini mengangkat tema Resource Efficiency : Using Less, Living Better. Acara ini menawarkan kesempatan untuk bertukar pengalaman dengan pihak-pihak yang memiliki kepedulian dalam menjaga lingkungan . Tahun lalu, acara ini dihadiri 3.400 partisipan yang datang dari Eropa dan negara-negara di luar Eropa.  Partisipan datang dari beragam kalangan, mulai dari pemerintah, LSM, pelaku bisnis, akademisi dan media massa. Acara terbuka untuk umum. Gratis. Mudah-mudahan Indonesia juga mengirim utusannya meski tidak tertulis dalam berita.

UU No.18 Thn.2008 : Pengelolaan Sampah

Indonesia masih butuh waktu beberapa tahun lagi untuk memiliki tingkat kesadaran yang mampu menggerakkan mayoritas manusia Indonesia untuk lebih peduli menjaga lingkungannya : pemerintah, LSM, pelaku bisnis, akademisi/pelajar, media massa, hingga rumah tangga.  Salah satu masalah yang serius dihadapi saat ini meski tidak seserius penanganannya adalah sampah. Padahal, core dari permasalahan ini berada di pemilahan, karena sampah yang sudah dipilah akan memudahkan kita dalam mengelolanya. Kelola ? ya ! Undang-Undang No. 18 tahun 2008 mengamanatkan pengelolaan sampah.  Sebuah perusahaan pengelolaan limbah di Inggris, Bluewater Recycle Association menulis di websitenya: “.. Jika benar-benar direnungkan,maka sesungguhnya limbah tidak benar-benar ada. Kami melihatnya lebih sebagai sumber daya, karena itu saat orang lain mengatakan pengelolaan limbah, kami mengatakan ini adalah pengelolaan sumber daya.  Namun informasi terakhir menyebutkan bahwa kini Pemda DKI sudah bekerjasama dengan pihak swasta dalam pengeleloaan limbah di TPA Bantar Gebang. Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa diikuti pemda lain.

Limbah organik mereka jadikan pupuk, limbah kertas mereka jadikan pulp (bubur kertas), plastik-plastik mereka lebur, dengan bantuan mesin granulator mereka membuat biji-biji plastik. Limbah kaca tak jauh berbeda nasibnya. Sedangkan limbah-limbah organik/non organik yang tidak bisa di daur ulang mereka masukan innecerator (tungku pembakaran khusus) yang abunya bisa dijadikan bahan baku pembuatan paving block. Sisanya masuk ‘kuburan sampah’ besar bernama Landfill, yang bisa menghasilkan  gas metan dalam jumlah yang besar. UU no. 18 tahun 2008 adalah tentang perubahan paradigma : perubahan image sampah sebagai sumberdaya, perubahan sistem pengelolaan sampah dan perubahan perilaku.

REDUCE,REUSE,RECYCLE,RECOVER,COMPOST,DISPOSAL.

Konsep 3R pun berkembang. Ada yang menambahkan R ke-4 adalah Rethink, atau Replant. Apapun namanya, semuanya bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat untuk bumi yang lebih nyaman sebagai tempat tinggal. Konsep Reduce diaplikasikan dengan mulai menghemat pemakaian listrik, membawa kantong sendiri ketika berbelanja, dsb. Konsep Reuse diaplikasikan dengan pendekatan seni rupa terapan, memberi ‘sedikit’ sentuhan kreativitas pada barang-barang yang akan kita gunakan kembali. Sedangkan aplikasi paling mudah dari konsep Recycle adalah dengan membuat kertas daur ulang sendiri. Mudah, murah namun punya nilai ekonomis. Untuk recover, yang paling mudah dilakukan adalah dengan menanam kembali pohon-pohon di lingkungan sekitar (Replant). Mulai dari tanaman herba yang bisa dijadikan obat, hingga tanaman-tanaman antipolutan yang bisa menyerap polusi yang ada di udara, atau menyokong udara murni sebanyak 1.500 liter dalam 24 jam.

Aplikasi Composting adalah dengan mulai memilah limbah organik : daun-daun yang jatuh di pekarangan, sisa sayuran, sisa makanan, dan yang lainnya secara terpisah.  Cukup dengan menggali lubang di tanah sedalam satu meter, buat penutupnya, anda sudah bisa membuat kompos dari sisa-sisa bahan organik tersebut. Jika sistem drainase tanah kurang bagus, bisa menggunakan drum, tangki plastik, ember bekas, atau apapun yg mempunyai penutup, bisa digunakan sebagai komposter.Seluruh bahan bakunya tersedia disekeliling kita, setiap hari.

Disposal adalah solusi akhir dari semuanya.  Kebelumtersediaan infrastruktur memungkinkan kita untuk sebatas mengumpulkannya saja, lalu ‘mendelegasikan’ tugas berikutnya kepada para pengepul limbah. Indonesia masih menerapkan sistem windrow, bahasa lain untuk membuat gunung sampah. Tengok Malaysia yang tidak lebih besar dari Indonesia, landfill mereka di bukit Kedah adalah bukti keseriusan pemerintahan mereka, atau lihat megahnya innecerator di Sinokor Singapura, padahal pulaunya tidak lebih besar dari pulau jawa.

SOSIALISASI : UJUNG TOMBAK PROGRAM

Sosialisasi dan kampanye kepada publik secara luas dengan berbagai cara & metode ,seperti pilot project, lomba antar warga/sekolah/kampus atau bahkan antar kantor, pemberian insentif-disinsentif , dan sebagainya. Termasuk pelaku dunia usaha yang barang dan atau kemasannya berpotensi menjadi sampah, terutama yang tidak/sulit diproses oleh alam. Kita butuh keseragaman paradigma di keberagaman masyarakat Indonesia.

Berharap pola pikir ini akan membawa perubahan pada kata-kata yang diucapkan, imbasnya adalah perubahan perilaku, yang perlahan namun pasti akan menjadi kebiasaan (habit), kebiasaan yang pada gilirannya akan membuat masyarakat membudayakan hidup bersih dan sehat, memiliki budaya memilah sampah pada tempatnya, dan membudidayakannya dari generasi ke generasi.

Jika sosialisasi tak kunjung tiba, maka mulailah bergerak, mulailah dari yang ada. Jangan menunggu, itu cuma membuang waktu. Jangan pula berpikir yang tidak ada saat kita ingin menunaikan tugas, bukankah keterbatasan adalah pemacu kreativitas ?

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s