Puasa Korupsi & The Chosen One

Puasa itu air. Korupsi itu minyak. Puasa membahas manfaatnya di masa mendatang. Korupsi membahas kerusakan yang ditimbulkan, belum lagi bahasan tentang korupsi sebagai warisan orde baru yang otoriter militeristik dan paternalistik atau ke-Bapakan : bukti tak terbantahkan kecerdasan pemimpin orde baru memanfaatkan dan memperkuat kesukubangsaan yang ada menjadi sebuah ideologi dan kekuatan politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Sistem ekonomi dan kronisme membuka lahan subur seluas-luas di setiap jengkal penjuru bumi nusantara tercinta untuk digarap. Korup sih…

Saya  lebih suka memberi penggalan kata menjadi puasa dan korupsi. Rasa suka ini bukan tidak beralasan, justru alasannya sangat mendasar. Saya jadi ingat trilogi film Matrix, saat Keanu Reeves  berperan menjadi The Chosen One : Neo. Kala itu sang jagoan berhadapan dengan musuh bebuyutannya, agen Smith. Mereka memulai pertarungan tangan kosong yang seru diawali dengan ucapan khas dari agen Smith, “ You are desease…,and I am the cure”.Wow..,that’s cool.

Saya yakin 100 % seluruh komponen bangsa ini ( termasuk si koruptor ) setuju kalau korupsi itu desease : penyakit !, dan puasa itu the cure. Masalah si koruptor mau mengobati sakitnya atau tidak, ya cuma dia  dan sang Pencipta yang tahu, toh sakitnya sudah bisa diprediksi , paling top ya amnesia : lupa berapa total jumlahuang yang sudah di korupsi, lupa bagi-bagi rezeki dengan siapa saja, terakhir lupa untuk berobat di Indonesia. Paling dekat di Singapura, selanjutnya………. terserah anda mau menghilang kemana.Makanya, kalau mereka disuruh puasa korupsi: impossible ! gak mungkin itu. Pendekatannya bukan agama. Lha wong mereka melakukannya  dengan ikhlas dan tanpa paksaan koq, semata-mata mengikuti anjuran Nabi untuk bekerja demi akhirat, seakan-akan ia esok akan mati, dan bekerja untuk dunia seakan-akan ia hidup abadi. Jangkrik !

Pendekatan agama itu sebangun dan seruang dengan penegakan hukum di ( alangkah lucunya ) negeri ini : tumpul bagi mereka, tajam bagi rakyat jelata. Prinsip demokrasi yang mengajarkan bahwa manusia sejajar, tidak berlaku dalam hal ini. Yang ada adalah demokrasi dalam berkorupsi : kalau atasan korupsi, bawahan juga harus berusaha sekuat tenaga mengeksplorasi bentuk-bentuk kreativitas dalam rangka menciptakan peluang-peluang untuk korupsi, baik jangka pendek, menengah maupun jangka panjang.  Saya tidak pernah sedetikpun beranggapan mereka itu punya ilmu kebal, saya lebih meyakini kalau senjatanya yang tumpul. Jangan anggap mereka atheis, buktinya kalau ada yang apes alias kena batunya lalu diseret ke meja hijau, mereka kerap menggunakan baju koko, berpeci, pokoknya religius . Kalau mereka bisa menyanyi, orang pasti mengira mereka grup barunya Opick. Firman Allah di Surat Al Baqarah tentang puasa sudah sangat jelas, hanya untuk orang yang beriman. Puasa sebagai the cure berada pada ranah iman, khusus mukmin, muslim tidak masuk hitungan. Pada ranah iman, tidak ada space untuk iri dan dengki, apalagi korupsi.

Seorang muslim bisa melakukan korupsi, sedangkan seorang mu’min tidak. Tataran mereka berada pada tingkatan yang berbeda, baik nilai maupun kompetensi. Seorang mu’min mempunyai equilibrium dalam hidupnya, muslim tidak. Jangan perintahkan seorang  koruptor untuk puasa korupsi : menahan rasa lapar dan dahaga akan kemewahan, menahan syahwatnya akan kecantikan semu dunia, sejak imsak hingga adzan maghrib berkumandang. Kultum yang disampaikan malaikat zabaniyah pun gak akan di gubris oleh koruptor yang sudah sakaw.

Saya lebih suka memberantas virus korupsi  lewat gerakan pendidikan: pendidikan berbasis karakter dan pendidikan berbasis keluarga. Butuh waktu lebih lama, tapi generasi yang akan tampil sebagai generasi penerus bisa membuat mahapatih Gajah Mada tersenyum, karena usahanya menyatukan bumi nusantara yang kaya raya ini tidak sia-sia. Tragisnya, dunia pendidikan juga tidak imun dari virus ini. Saya lebih percaya kalau saat ini Ki Hajar Dewantara sedang bermuram durja, menyaksikan dunia pendidikan di Indonesia yang sebagian masih di huni oleh Kelompencapir alias Kelompok Penjilat,Pengecap dan Penyihir. Padahal konsep kelas tiga dinding beliau yang luar biasa itu sudah be-reinkarnasi menjadi Contextual Teaching Learning atau PAIKEM.

Bicara tentang korupsi dan pendidikan di jalur formal cuma membuat sebagian orang addicted dengan obat-obat analgesik : pereda nyeri, tapi tidak menghilangkan sakitnya sama sekali. Sebagian lagi ingat firman Allah dalam Al Quran bahwa berputus asa itu dosa, jadi mereka meletakkan harapan mereka pada pendidikan berbasis keluarga. Mereka mengakses beragam informasi untuk membangun kompetensi diri mereka dalam menciptakan generasi yang punya kapasitas dan kapabilitas. Mereka mengembalikan peran mereka sebagai role model: sebuah tauladan yang baik, jauh lebih baik dari seribu nasehat. Noble character. Akhlakul karimah. Puasa mereka berbuah empati, puasa yang hakiki.

Pendidikan berbasis keluarga dan berbasis karakter adalah benteng terakhir dalam upaya memerangi korupsi di negeri ini. Dari sanalah akan lahir the chosen one yang lain, para satria piningit yang akan memimpin negeri ini menuju masyarakat madani. Merekalah pribadi-pribadi yang menomorsatukan kepentingan umum di atas kekayaan pribadi, menomorsatukan ‘kesehatan’ dan menomorduakan kenikmatan. Merekalah orang-orang yang percaya pada kehidupan sesudah mati. Laporan pertanggungjawaban sudah mereka persiapkan sejak dini, sebagai bekal saat tubuh mereka telah tertanam dalam lipatan bumi yang sunyi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s