Lingkungan Sebagai Sumber Belajar

Adalah Ki Hajar Dewantara yang pertama kali mengggas konsep kelas tiga dinding. Filosofi yang beliau kemukakan adalah tidak adanya sekat antara kelas dengan realitas.

Pendidikan bersifat antisipatoris. Ini terjadi karena dunia pendidikan adalah dunia yang dinamis. Yang abadi adalah perubahan. Konsekuensinya, jika pelaku pendidikan tidak ikut mengantisipasi perubahan yang terjadi maka ia akan tertinggal. Ia akan membusuk.

Almarhum Prof. Mochtar Buchori pernah menyampaikan pemikirannya bahwa  ada tiga hal yang menjadi esensi pendidikan : mandiri, hidup berharga dan hidup bermakna. Maka, untuk bisa mandiri sesorang harus memiliki keterampilan. Untuk bisa menghargai hidup seseorang harus punya ilmu pengetahuan dan untuk bisa memaknai hidup seseorang harus punya kearifan.

Pak Agus Sampurno saat TOT Pendidikan Berbasis ICT di Jatiluhur menulis motto yang hampir sama di slide-nya : The world is a big classroom. Each day is a new lesson, and everyone i meet is a teacher.

Sudah banyak metode pembelajaran dibuat. Metode yang didalamnya terangkum beragam model yang merangkum beragam teknik. Berbicara tentang lingkungan sebagai sumber belajar adalah berbicara tentang tindakan. Lingkungan sebagai sumber belajar berada pada ranah praktek, bukan teori.

Pelaku pendidikan yang menggunakan lingkungan sebagai sumber belajarnya akan muncul ke permukaan sebagai guru kreatif, guru potensial, guru inspiratif, guru yang disukai dan dihormati muridnya. Lingkungan menjadi motivasi intrinsik bagi pelaku pendidikan dalam mengembangkan kompetensi kepribadian dan sosialnya, sehingga saat mengembangkan kompetensi pedagogiknya, ketiganya akan menghablur lalu lahir kemabali dalam wujud seorang guru profesional.

Sampai kapanpun, pendidikan akan menjadi ujung tombak kemajuan sebuah bangsa, salam.

 

saung kreatif, jelang ashar.

Ayo Menggambar..!

Dua tahun terakhir saya mengajarkan dasar-dasar menggambar mulai dari TK hingga siswa SMU. Hal ini didasari keingintahuan saya akan output dari proses hulu-hilir pelajaran menggambar.

Meminjam istilah sahabat saya Pak Botaksakti, menggambar hanyalah tool, bukan tujuan. Jika ada yang berbakat atau berminat menekuninya, mereka diarahkan ke kegiatan ekstra kurikuler.

Menggambar sama halnya seperti menulis.Keduanya adalah output. Inputnya adalah lingkungan. Seberapa dalam proses pengamatan dan seberapa aktif interaksi dengan lingkungan akan terlihat pada hasil, dan menjadi rekam jejak. Menggambar adalah proses.

Kuncinya adalah proses kerja otak. Pertanyaan terbanyak dalam pelajaran ini adalah  ” Pak, saya TIDAK BISA menggambar.” Solusinya adalah sugesti. Di TK dan SD, mereka biasa meneriakkan yel “Aku bisaaaa..!” dan tak lupa memuji semangat mereka dalam berkreasi serta membuat display untuk karya mereka yang sudah jadi selama satu minggu.

Sedangkan untuk siswa SMP dan SMU mereka kerap diajak berdiskusi, membahas kata ‘tidak bisa’, memberi beberapa ilustrasi bagaimana otak bekerja dengan mengaitkan satu informasi dengan informasi lainnya atau bermain sulap.

Secara umum, ada dua cara belajar menggambar : berbasis imajinasi dan berbasisi pengamatan. Sayangnya, yang pertama mendapat porsi terlalu banyak. Padahal keduanya seperti otak kanan dan otak kiri ; akan lebih optimal jika seimbang. Imajinasi bersandar pada pola berpikir divergen, sedangkan pengamatan bersandar pada pola pikir konvergen.

Menggambar di ruang terbuka adalah hal  yang perlu dilakukan. Mintalah pada mereka untuk menggambar satu obyek yang paling menarik perhatiannya lalu amati setiap detilnya. Jika obyeknya pohon, ingatkan mereka untuk teliti ( dalam mengamati ), sabar ( dalam mengerjakan ) dan jujur ( menyampaikan fakta ). Kegiatan mereka memperlihatkan begitu banyak ekspresi : tenang, percaya diri, ragu-ragu, putus asa,penasaran, menarik garis hanya sekali, ada yang berkali-kali, ada yang gambar-hapus gambar-hapus. Dalam kondisi seperti itu, guru berperan sebagai fasilitator, motivator sekaligus sahabat bagi siswa. Sebuah pengalaman belajar yang berbeda. Proses belajar berlangsung.

Esensi dari kegiatan ini adalah membangun rasa percaya diri siswa yang akan membentuk kepribadiannya, kepribadian yang dibentuk tidak hanya berdasarkan faktor hereditas tetapi juga lingkungan ( Elizabeth B Hurlock, Child Development; McGraw-Hill Inc, 1978 ). Rasa percaya diri yang baik akan membentuk konsep diri yang juga baik. Kelak, konsep diri inilah yang akan membentuk mentalnya.

Tahun ajaran kemarin, setiap hari Rabu minggu pertama dan ketiga beberapa guru berkumpul di sekolah saya untuk share tentang dasar-dasar menggambar ; membuat corat-coret sederhana yang bisa membantu siswa dalam memahami beberapa pelajarannya. Media belajar visual dua dimensi ini cukup membantu mereka memvisualisasikan narasi yang kadang membuat beberapa siswa bingung. Kamibiasa memulainya dari fun drawing ; menggambar pada sisi kanan otak kita. Membuat obyek gambar dari angka dan huruf adalah kegiatan corat-coret dasar biasa yang efeknya luar biasa. Semua berawal dari titik. Titik yang berbaris akan menciptakan garis. Garis-garis bersambung menciptakan bidang dan perpaduannya akan menciptakan bentuk.

Menggambar adalah ‘make up’ psikologis. Yuk..menggambar.

Sampai mati belajar Calistung

Saya selalu tertarik dengan filosofi konsep calistung : Membaca, Menulis, Berhitung. Kata ‘menulis’ diapit oleh kata membaca dan berhitung ( malah menurut saya, menulis itu middle name-nya guru). Selesai membaca situasi dan memperhitungkan keadaan, seseorang dianjurkan untuk menulis.

Sebagai makhluk sosial, bagaimana mungkin kita tidak membaca lingkungan ? sebagai guru, bagaimana mungkin kita tidak membaca kondisi kelas ? kondisi siswa ? bukankah kita harus berhitung : jika satu kekurangan ini kita tambah dengan tiga kelebihan hasilnya sama dengan dua harapan ?!.

Tugas utama kita sebagai guru adalah mengajar, namun bukankah hakikatnya adalah mengajar ? caranya ? dengan menempatkan dirinya menjadi siswa pertama di  kelas….,lalu semuanya ditulis dalam catatan harian, catatan pinggir, diary atau entah apapun namanya. Hampir di setiap workshop, saya selalu memberikan games kecil: saya bagikan dua lembar kertas origami ke setiap peserta. Kertas pertama dibuat menjadi kapal terbang atau origami lain yang mereka bisa. Kertas kedua hanya diremas menjadi gumpalan kertas, menjadi sampah. Penutup, saya berikan pertanyaan ,: ” Mengapa dua benda yang sama (kertas) menjadi dua karya yang berbeda ? Mengapa yang satu menjadi sebuah karya dan yang satunya menjadi sampah ?”.

Biasanya saya sisipkan ayat dari Al Quran yang menyatakan bahwa kerusakan di bumi ini adalah akibat ulah TANGAN manusia. Logikanya, jika tangan ini yang merusak,maka tangan ini pula yang memperbaiki, dan menulis adalah salah satu solusi.Menulis bisa mewadahi kata-kata yang sulit terucap oleh lidah.

Calistung disatukan oleh ikatan yang bernama pikiran. Dari sana semua berasal. Calistung berada pada semua ranah yang disebutkan Benjamin S. Bloom dalam taksonominya : ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Membaca  membutuhkan keterampilan merangkai huruf menjadi kata untuk kemudian memahaminya. Menulis membutuhkan sense dan emosi dalam prosesnya. Berhitung memerlukan gerak tubuh  ( turun ke lapangan ) dan pada saat bersamaan mengkombinasikannya dengan kognisinya.

Belajar adalah proses seumur hidup, itu sebabnya kita baru berhenti jika kita sudah mati.

Mercusuar-media pembelajaran dari barang bekas ( IPA Kls. 6 )

Suatu ketika, seorang sahabat yang mengajar di kelas 6 mengajak saya untuk berdiskusi kecil tentang materi praktek IPA tentang listrik dan penghasil listrik lainnya. “Jangan mahal-mahal ya Pak, itu… beli bahan-bahannya.” Sayajawab, ” Tenang, dikau cukup membeli cat, batere baru, lem kayu dan isolatip. Dua terakhir juga tersedia di sekolah. Selebihnya bahan baku yang dibutuhkan tersedia gratis di rumah dan di kantor tata usaha sekolah.” Saya meninggalkannya dalam keadaan bingung. Iseng sedikit tidak apa-apa kan..?!

Saya mengajarinya selepas mengajar di rumah saya. Kebetulan, bahan bakunya sudah dipersiapkan. Saya mengajarinya tahap demi tahap. Harus dia yang mengerjakan, supaya nanti ketika mengajari siswanya itu karena dia sudah lebih dulu membuatnya. Prinsipnya, mengalami tidak sama dengan mengamati. Ini hasilnya setelah beberapa saat.

3 buah batere bekas dibungkus dengan kertas limbah hvs di tata usaha. Suapaya kuat, setelah diberi lem ditambahkan isolatip. Atapnya dari kardus bekas di kantin, mikanya dari proposal tak terpakai di kantor tata usaha. Setelah itu membuat pulaunya dari gumpalan kertas bekas, ditaruh di atas triflek bekas.

Ketika selesai, gabungkan keduanya : pulau dengan mercusuar. Tampilan sebelum finishingnya seperti ini.

Hasil akhirnya seperti ini. Tadaaaaaaaaaaaaaaaaa….

Alhamdulillah….selesai.

Pelajaran Bhs.Arab + SBK + Power Point = Fun Learning

Beberapa teman sempat mengeluhkan sulitnya mencari buku bahasa arab yang sesuai untuk siswa sekolah dasar. Hal ini menarik perhatian saya,karena bagi saya, guru itu ‘chef’ pendidikan : kreatifitas dan inovasinya bisa mengubah bahan-bahan yang biasa menjadi hidangan yang menggugah selera.., Bon Apetit !

Umumnya pelajaran Bahasa Arab diajarkan sejak siswa duduk di kelas 3. Jika guru ditanya kenapa siswa kelas 1 tidak mendapat pelajaran tersebut mayoritas dari mereka menjawab karena hal ini belum perlu. Namun alasan terbanyak adalah belum adanya buku yang benar-benar sesuai untuk siswa SD. Dulu, buku yang umumnya dipakai adalah buku untuk Madrasah Ibtidaiyyah. Yang menjadi permasalahan pokok adalah pembelajarannya langsung kepada pembuatan dan pengertian kalimat.Sekarang sudah ada beberapa penerbit yang membuat buku-buku pelajaran bahasa Arab untuk SD, namun beberapa teman termasuk saya masih merasa ada yang kurang.

Tahun lalu sebuah penerbit mengadakan soft launching buku pelajaran bahasa Arab di sebuah sekolah terkenal di Jakarta Selatan.Salah satu pembicaranya adalah dosen si penulis ketika kuliah di Al Azhar Kairo. Pemaparan beliau mengurai benang kusut di kepala saya tentang metode belajar bahasa arab untuk siswa SD terutama kelas 1-3. Saya pulang dengan membawa beberapa buku yang saya beli untuk pegangan guru dan kilatan-kilatan ide di benak saya.

Pengalaman saya beberapa tahun mengajar ekskul lukis di TK memudahkan saya dalam mengajar siswa SD kelas bawah (1-3). Pembelajaran bahasa Arab untuk siswa kelas 1-2 lebih banyak menulis huruf hijaiyyah dan menyalinnya. Disini saya memadukannya dengan pelajaran menggambar. Contoh, Alif. Dari huruf alif saya saya buat gambar dua telinga panjang,lalu menjadi muka, diberi tambahan mata, hidung, mulut dan dua buah gigi. Spontan siswa berteriak, : ” Kelinciiii..!”, saya tinggal menambahkan ( menarik mereka kedunia saya setelah sebelumnya saya masuk ke dunia mereka ) dengan berujar, : ” Ini arnab..,alif..arnab”.

Tahap berikutnya, materi saya buat dengan program power point. Proyektor saya arahkan ke white board, bukan ke layar, jadi ketika saya atau siswa menggambar dan menulis kami melakukannya di white board. Huruf hijaiyyah yang muncul saya beri animasi dan efek suara, kemudian saya ubah menjadi objek gambar. Kotak sejumlah huruf turun satu persatu ( saya meggunakan fasilitas bounce,juga dengan efek suara ) kemudian siswa satu per satu maju ke depan, menulis di kotak-kotak yang tersedia.

Mereka tidak menggunakan buku tulis, tapi buku gambar. Tiap lembarnya berisi huruf hijaiyyah di ubah menjadi gambar/objek yang huruf pertamanya di mulai dengan huruf hijaiyyah tersebut. Jadi ketika lembar terakhir buku gambar digunakan, siswa punya ‘kamus kecil’ berisi mufrodat/kosakata yang dibuat oleh mereka sendiri.

Mudah-mudahan tahunajaran depan nanti bisa diwujudkan menjadi sebuah modul. Mohon doa dari teman-teman sekalian…

Media Pembelajaran Dari Barang Bekas ( KKG Gugus VI Kec. Pinang Tangerang )

Usai menyampaikan materi tentang kreatifitas pada Workshop Sekolah Sehat Sosro di SMPN 10 Malang Jawa Timur, saya memberi materi yang sama di Gugus VI Kec. Pinang yang di ketuai Pak Suhendi,S.Pd

Seperti biasa, saya mengangkut semua ‘perlengkapan tempur’ di setiap kegiatan. Mendisplay beberapa contoh kerajinan tangan atau media pembelajaran yang dibuat dari barang-barang bekas yang ada di sekolah. Harapannya cuma satu : mereka akan menghujani saya dengan beragam pertanyaan. Umumnya mereka pasti pernah mengajarkan metode belajar berbasis inquiry kepada siswanya, jadi sekarang giliran mereka yang mengumpulkan informasi dan membangun pengetahuannya dengan membuat serangkaian pertanyaan.

Yang menarik dari tiap workshop yang saya datangi adalah tingkat antusiasme peserta. Selalu ada hal baru yang saya dapat dari pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada saya. Saya ‘belajar’ dari workshop ke workshop. Caranya ? dengan menjadikan saya peserta pertama di ruangan itu.

MEMBACA lingkungan dengan MENGGAMBAR

Dua tahun yang lalu saya bergabung dengan Indonesia’s Sketcher, namun saya yang tergolong kurang aktif dalam kegiatan sketch bareng. Kalau waktunya sangat memungkinkan, saya baru ikut.

Saya menyukai sketch karena caranya merekam lingkungan. Aktifitas menggambar ini menyisakan perenungan akan kondisi lingkungan kita sekarang. Kita diajak untuk menyaksikan sendiri beragam keadaan yang ada di depan mata.

Itu yang saya coba bagi bersama murid-murid saya, mencoba untuk lebih peka akan kondisi lingkungannya. Dengan bantuan beberapa teman, saya undang teman-teman di SMA Islam Cikal Harapan BSD Tangerang Selatan.

Kami berkumpul di Bundaran BSD, lalu mulai mencari objek-objek menarik.Pencarian berakhir di tugu peringatan Daan Mogot.Dulu saya hanya mendengar ceritanya dari almarhum Bapak yang ikut berperang. Bangunan-bangunan tua, aura-aura yang tak terbaca namun terasa, sebuah sejarah hampir terlupa.

Sebuah kepingan sejarah, tersembunyi diantara pemukiman, tersamar oleh riuhnya deru kendaraan..