METODE PEMBELAJARAN PKn DENGAN MENGGUNAKAN Contextual Teaching & Learning ( CTL )

KOMPONEN UTAMA CTL

( Johnson )

 

  1. 1.       Melakukan hubungan yang bermakna

Making meaningful connections

  1. 2.       Melakukan kegiatan-kegiatan yang berarti

Doing significant works

  1. 3.       Belajar yang diatur sendiri

Self-regulated learning

  1. 4.       Bekerjasama

Collaborating

  1. 5.       Berpikir kritis dan kreatif

Critical & crative thingking

  1. 6.       Mengasuh/memlihara pribadi siswa

Nuturing the individual

  1. 7.       Mencapai standar yang tinggi

Reaching high standards

  1. 8.       Menggunakan penilaian yang otentik

Using authentic assessment

 

PENGANTAR

Buku pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di tingkat Sekolah Dasar umumnya disesuaikan dengan standar isi yang dibuat oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP) yang memuat hanya pokok-pokok pembelajaran, sedangkan pengembangannya diserahkan ke sekolah masing-masing. Tim penyusun dan penerbit mengerahkan seluruh kemampuan dan kreativitasnya dengan membuat tata letak dan gambar yang menarik, bahasa penyajian yang lugas,latihan-latihan yang diharapkan mampu membimbing nalar dan mengembangkan kreativitas siswa . Umumnya mereka berharap buku tersebut bisa memberi andil dalam menanamkan nilai moral dan kebangsaan pada siswa.

Tidak salah dan tidak masalah. Masalahnya ada pada guru sebagai praktisi langsung di lapangan, dan sekolah sebagai institusi tempat guru bernaung. Mereka harus memiliki metode pembelajaran yang tepat, yang didukung tidak hanya oleh kepala sekolah dan komite sekolah, tetapi juga oleh pengawas/penilik serta dinas pendidikan. Dibutuhkan keseragaman komitmen dari keberagaman  pola pikir yang ada.

Siswa Sekolah Dasar adalah para pemikir kongkrit. Mereka membutuhkan visualisasi, bukti otentik dari catatan linear yang mereka tulis di buku, atau teks singkat yang mereka baca, agar mereka bisa memahami berbagai hal yang dekat dengan kehidupan mereka, menyemai bibit-bibit moralitas , yang kelak akan tumbuh meraksasa, menembus langit menghunjam bumi, dan pada gilirannya akan memperkokoh bangsanya, bangsa yang berdiri di atas kekuatan-kekuatan individu, bukan golongan.

Contextual Teching and Learning hadir untuk memediasi hal tersebut. Metode pembelajaran yang berpusat  pada siswa dan menekankan proses belajar melalui mengalami bukan menghafal, mampu memperluas pengalaman dan menumbuhkan minat siswa, sehingga mereka bisa terlibat lebih aktif dalam proses pembelajaran. Ini cocok dengan esensi materi pelajaran PKn yang menanamkan nilai-nilai moral  melalui serangkaian praktek dan pengamatan langsung di lapangan, bukan sekedar retorika atau visualisasi poster semata.

 

Bagaimana tidak, belajar bagi siswa akan mendorong mereka untuk membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat kelak, sedangkan guru akan memainkan perannya sebagai fasilitator : membantu mereka mengaitkan antara materi  yang diajarkan dengan situasi nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gb. 1

Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru: Super Teacher,Super Student

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

 

PEMETAAN MASALAH

Secara umum, permasalahan yang dihadapi bersumber pada dua hal, yaitu faktor internal dan eksternal.

 

  1. FAKTOR INTERNAL

Mengutip  data dari Modul Pelatihan Praktik yang Baik Departemen Pendidikan Nasional tahun 2009, isu yang kerap muncul dalam penerapan metode ini adalah sebagai berikut :

-          Guru belum memperoleh kesempatan menyaksikan pembelajaran  metode Contextual Teaching & Learning yang baik.

-          Siswa lebih sering mengisi Lembar Kerja Siswa yang sebagian besar pertanyaannya bersifat tertutup.

-          Guru belum membelajarkan kecakapan hidup.

-          Siswa jarang melakukan kegiatan yang mencerminkan pembelajaran yang kooperatif.

-          Buku paket yang hanya berisi pokok-pokok bahasan, membingungkan sebagian guru untuk mengembangkan materi.

Gb.2

Aplikasi Project-Based Learning

( Dok. SDIT AL Mustofa )

 

 

  1. FAKTOR EKSTERNAL

Mengutip dari buku yang sama, beberapa isu yang kerap menjadi kendala dalam penerapan metode ini adalah :

-       Belum ada program peningkatan kualitas yang baku dari sekolah .

-       Belum optimalnya sosialisasi dan program pendampingan dari  kepala sekolah, pengawas sekolah serta dinas pendidikan.

-       Metode pembelajaran lebih banyak klasikal, sehingga interaksi siswa lebih sedikit.

Secara umum, kompetensi pedagogi guru memainkan peranan penting dalam hal ini. Selain minat baca masyarakat kita yang masih mengkhawatirkan, program-program yang mampu meningkatkan kinerja guru baik secara internal di sekolah maupun pada tingkat gugus perlu lebih dioptimalkan.

Gb.3

Rapat Kerja & Evaluasi Guru : Redefinisi & revitalisasi sumber belajar

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Indonesia adalah sebuah bangsa yang besar. Hal ini ditunjukkan dengan keberagaman suku dan budayanya. Orde lama menomorsatukan Nasionalisme dan membatasi gerak serta ruang kesukubangsaan, keberagaman kebudayaan hanya boleh ditampilkan dalan event-event kesenian.

Orde baru sebaliknya. Mereka menjadikan keberagaman sukubangsa menjadi sebuah ideologi, sekaligus mesin politik untuk melanggengkan kekuasaannya. Dengan pemerintahan yang otoriter militeristik dan sistem ekonomi terpusat pada keluarga serta kronisme, penyakit-penyakit moral tumbuh subur.

Reformasi yang bergulir sejak 1998 memberi ruang seluas-luasnya untuk demokrasi meski tertatih-tatih. Tiga puluh dua tahun bukan waktu yang sebentar. Ibarat pohon, dekadensi moral sudah menjelma menjadi pohon yang berdiri kokoh, rimbun, dengan akar kuat yang menghunjam bumi. Namun reformasi juga memberi ruang untuk redifinisi, mengembalikan sesuatu ke asalnya.

Globalisasi membawa side-effect, terutama bagi individu yang belum siap. Norma dan nilai meredup, batasan memudar, rambu-rambu menjadi rancu. PKn sebagai bidang studi/pelajaran mestinya tidak hanya memberikan beragam informasi tentang norma-norma ataupun nilai-nilai luhur sebuah bangsa. Informasi tersebut mestinya sudah menjadi atteatude : tercermin dalam sikap dan hidup keseharian. Pertanyaannya adalah : bagaimana metode yang tepat dalam mengajarkan PKn di sekolah ? materi apa saja yang harus dikuasai guru ? bagaimana menciptakan lingkungan yang mendukung ? siapa saja yang terlibat dalam program  ini ? bagaimana strateginya ?

 

 

CTL : SEBUAH SOLUSI

Pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang holistik, dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengaitkan materi tersebut  dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, baik pribadi, sosial maupun kultural, sehingga siswa memiliki pengetahuan/keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan/di transfer dari satu permasalahan ke permasalahan lainnya.

Ada tujuh langkah dalam CTL yang bisa dilakukan oleh guru :Mengembangkan pemikiran  bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya, bukan sekedar menerima, pengetahuan yang dibangun berdasar pada pengetahuan awal.

Gb.4

Karya tidak berada pada ranah teori :

Membuat lubang biopori di lingkungan sekolah

( Dok. SDIT Al Mustofa )

  1. Learning by Discovery ; belajar dengan menemukan adalah dasar dari kegiatan berbasisi inquiri, dimana terjadi proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman. Di sini, siswa akan melatih keterampilannya berpikir kritis.
  2. Mengembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya/questioning,  yang merupakan bagian penting dari proses belajar berbasis inquiri. Rangkaian pertanyaan yang lahir dalam proses pengamatan akan menumbuhkan kemampuan berpikir siswa.
  3. Menciptakan komunitas belajar/learning community, yang dimulai dari sebuah learning team. Tujuan akhirnya adalah terciptanya learning society, masyarakat belajar. Dalam proses ini siswa bisa berbagi pengalaman, ide dan bekerjasama.
  4. Menghadirkan model sebagai contoh belajar/modeling. Ini adalah proses penampilan suatu contoh agar siswa berpikir, bekerja dan belajar.
  5. Melakukan refleksi di akhir pertemuan, sebagai reinforcement/penguat materi yang diajarkan sekaligus mengkonfirmasi tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan.
  6. Gb.5

    Kunjungan ke kecamatan Pinang :Belajar tentang Struktur Pemerintahan Daerah

    ( Dok. SDIT Al Mustofa )

    Melakukan penilaian yang sebenarnya untuk mengukur pengetahuan dan keterampilan yan telah siswa miliki melalui penilaian kinerja dan pemberian tugas yang relevan dan kontekstual.

Karakteristik pembelajaran  CTL yang saling menunjang, terintegrasi dan menggunakan berbagai sumber, akan menciptakan atmosfir belajar yang menyenangkan dan bergairah, siswa yang kritis dan guru yang kreatif, serta dinding yang penuh dengan hasil kerja siswa. Mereka mencapai komponen-komponen utama  yang membentuk Contextual Teaching and Learning. Mulai dari melakukan hubungan yang bermakna dan kegiatan yang berarti,  bekerjasama, berpikir kritis dan kreatif, memelihara pribadi, belajar yang diatur sendiri, menggunakan penilaian yang otentik hingga mencapai standar yang tinggi.

 

Gb. 6

Hari Anak adalah momentum bagi siswa untuk menetapkan konsep diri

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

 

 

 

STRATEGI

Untuk mencapainya, dibutuhkan strategi yang akan mendekatkan kita pada hasil ataupun tujuan pembelajaran :

  1. 1.       Belajar Berbasis Masalah

Memperoleh pengetahuan dan esensi dari konsep materi pelajaran melalui pendekatan yang menghadirkan masalah dunia nyata/realita untuk meretas nalar, berpikir kritis siswa sebagai upaya pemecahan masalah/problem soving.

 

  1. 2.       Pembelajaran Autentik

Adalah metode pengembangan keterampilan berpikir siswa dan problem solving dalam konteks kehidupan nyata, sehingga mereka bisa memiliki kearifan untuk memaknainya.

 

  1. 3.       Belajar Berbasisi Inquiri

Jika untuk bisa memaknai hidup siswa harus memilki kearifan, maka untuk bisa menghargai hidup, siswa harus memiliki ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan yang mengikuti metodologi sains, yaitu lewat serangkaian pengamatan yang dikelilingi beragam pertanyaan. Hasilnya adalah sebuah pemahaman.

 

  1. 4.       Belajar Berbasis Tugas/Proyek

Pendekatan ini menitikberatkan pada kemampuan individu siswa untuk mandiri : pengetahuan awal yang dimilikinya dijadikan pondasi untuk mengkonstruksi pembelajarannya. Hasilnya adalah pengetahuan dan keterampilan baru, yang lantas dikulminasikannya dalam produk nyata.

 

  1. 5.       Belajar Berbasis Kerja

Pendekatan ini memungkinkan siswa menggunakan tempat kerja untuk mempelajari materi ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja.

 

  1. 6.       Belajar Berbasis Jasa layanan

Proyek atau tugas terstruktur siswa  sebagai sebuah penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

 

  1. 7.       Belajar Kooperatif

Adalah upaya memaksimalkan kondisi belajar siswa dengan cara membentuk kelompok-kelompok kecil dimana mereka dapat bekerjasama, sehingga tujuan belajar tercapai.

 

Gb. 7

Konstruktivisme : Siswa terlibat aktif dalam proses belajar

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

 

 

 

 

CTL DALAM PEMBELAJARAN PKn

Dalam pandangan penulis, CTL adalah metode belajar yang tepat dalam pelajaran yang berbasis karakter, sosial dan pengetahuan alam. Titik temunya adalah pengetahuan dan keterampilan baru yang didapat siswa bukan dengan menghafal, tetapi melakukan .  Learning by Doing, Learning by Discovery. Pelajaran PKn yang sarat dengan nilai-nilai moral yang membentuk karakter yang mulia/akhlakul karimah tidak dapat dicapai lewat serangkaian teori atau tugas yang tidak membangun pengetahuan baru dan tak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata.

 

Gb.8

Pelatihan siaga bencana : mengembangkan pengetahuan yang sudah dimiliki siswa.

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

 

 

 

 

Gb. 9

Kunjungan ke Polres Tangerang : belajar melalui mengalami, bukan menghafal

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

Seluruh strategi yang tertulis di atas bisa digunakan seluruhnya dalam pelajaran PKn. Butuh pembiasaan pada awalnya, dan ketika kebiasaan telah terbentuk, maka benih-benih kebaikan yang disemai akan tumbuh dan menjelma dalam diri setiap siswa. Bagaimana tidak, Problem- Based Learning-nya akan membuka bukan hanya mata dan kesadarannya, tetapi juga cakrawala berpikirnya sejak dini. Authentic Instruction akan mengembangkan kemampuan problem soving dari masalah yang ada dihadapannya, dan Inquiry-Based Learning  memberinya tugas untuk mengamati lingkungannya, baik karakter maupun budayanya. Satu hal yang pasti, seribu satu macam pertanyaan akan mengisi benaknya, pertanyaan yang membutuhkan jawaban yang sama atau mungkin dua kali lipat jumlahnya.

Project-Based Learning akan memperkaya pengalaman siswa, Work-Based Learning akan membuatnya lebih menghargai hidup  dan Service-Based Learning akan menumbuhkan empatinya untuk berbuat sesuatu terhadap masyarakatnya, serta Cooperative Learning yang akan menyadarkan dirinya bahwa sebagai makhluk sosial, ia butuh orang lain.

.Gb. 10

Student Centered : Presentasi siswa di depan kelas

( dok. SDIT Al Mustofa )

Gb.11

 

Gb.11

Pawai Tarhib Ramadhan : mengajarkan siswa tanggung jawab sosial

sekaligus mengingatkan diri mereka sebagai bagian dari masyarakat

( Dok. SDIT Al Mustofa )

Gb.12

Market Day : Belajar Berbasis Jasa Layanan

( Dok. SDIT Al Mustofa )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LAMPIRAN-01

CONTOH RPP

 

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

( RPP )

 

Nama Sekolah                   :  SDIT Al Mustofa

Kelas/semester                                :  II/Ganjil

Tema                                     :  Norma di masyarakat

Sub. Tema                           :  Melaksanakan norma yang berlaku di masyarakat

Alokasi Waktu                   :  2 x 35 menit ( 1 x pertemuan )

 

  1. A.      Standar Kompetensi
    1. Norma dan aturan yang berlaku di masyarakat.
    2. Contoh aturan yang berlaku di masyarakat.
    3. Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat.
    4. Akibat bila aturan tidak ditaati.
    5. B.      Kompetensi Dasar
      1. Norma yang berlaku dalam masyarakat.
      2. Macam-macam norma.
      3. Aturan yang berlaku dalam keluarga .
      4. Aturan yang berlaku di sekolah.
      5. Aturan yang berlaku di masyarakat .
      6. Melaksanakan aturan yang berlaku di masyarakat.
      7. Akibat aturan tidak di taati.
    6. C.      Indikator Ketercapaian
      1. Mengenal norma yang berlaku dalam masyarakat.
      2. Mengenal dan mengetahui macam-macam norma.
      3. Membuat simulasi mengenai  aturan yang berlaku dalam keluarga sekolah dan masyarakat .
      4. Melaksanakannya dalam keseharian.
      5. Mengetahui akibat atau sanksi yang di dapat bila tidak taat.
    7. D.     Tujuan Pembelajaran

Setelah pembelajaran ini, diharapkan :

  1. Siswa dapat mengenal norma yang berlaku dalam masyarakat.
  2. Siswa dapat mengenal dan mengetahui macam-macam norma.
  3. Siswa dapat membuat simulasi mengenai  aturan yang berlaku dalam keluarga sekolah dan masyarakat .
  4. Siswa dapat melaksanakannya dalam keseharian.
  5. Siswa dapat mengetahui akibat atau sanksi yang di dapat bila tidak taat.
  6. E.      Materi Pembelajaran

Mengenal, menyebutkan dan melaksanakan aturan yang berlaku di lingkungan masyarakat sekitar.

  1. F.       Metode Pembelajaran
  2. Problem-Based Learning dilakukan pada awal pembelajaran, appersepsi dan materi pokok.
  3. Questioning dilakukan selama proses pembelajaran
  4. Inquiry-Based Learning & Modelling dalam kegiatan elaborasi
  5. Authentic Assesment di kegiatan akhir
    1. Project-Based Learning dalam pemberian tugas/pekerjaan rumah.
    2. G.     Kegiatan Pembelajaran
    3. 1.      Kegiatan Pendahuluan
      1. Guru memasuki ruang kelas yang akan diteliti setelah bel berbunyi.
      2. Guru membuka pelajaran dengan salam dilanjutkan dengan berdoa, kemudian menanyakan siswa yang tidak hadir.
      3. c.       Guru mengajak siswa bersama-sama membaca Surat At-Tiin ayat 1-8, lalu mengulang lagi ayat ke-4. ” Laqod khalaqnal insaa-na fii ahsani taqwiim ” yang artinya ” Sungguh, Kami telah menciptalkan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya”.
      4. Guru memberikan pernyataan disusul pertanyaan : Allah SWT menciptakan manusia, hewan dan tumbuhan. Apa yang membuat manusia lebih mulia dari hewan dan tumbuhan ? ( jawabannya akal budi )
      5. Guru mengetengahkan indikator yang akan dicapai pada pembelajaran ini.
      6. 2.    Kegiatan Inti
        1. Eksplorasi

1)      Guru membagikan Lembar Siswa Mandiri lalu memberitahukan bentuk tugas yang diberikan.

  1. Elaborasi ( di pinggir lapangan ): guru memberi narasi, siswa mempraktekkan.

1)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra dan putri maju ke depan kelas, berjalan bersama, lalu ketika hendak duduk, siswa putra mempersilahkan putri untuk duduk terlebih dahulu. Siswa diminta mengisi LSM

2)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra dan putri maju ke depan kelas. Siswa putri menjadi seorang nenek tua hendak menyebrang jalan, siswa putra membantunya menyebrang. Siswa diminta mengisi LSM

3)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra dan putri maju ke depan kelas. Siswa putra menjadi Bapak. Siswa putri menjadi seorang anak yang hendak pergi ke sekolah, lalu pamit dengan perkataan yang lembut. Siswa diminta mengisi LSM

4)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra dan putri maju ke depan kelas. Siswa putra menjadi pengendara motor (menggunakan sepeda). Siswa putri menjadi seorang polwan. Pengendara motor melanggar lampu lalu lintas, polwan memberhentikan kendaraanya dan memberinya surat tilang sebagai hukuman. Siswa diminta mengisi LSM

5)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra maju ke depan kelas mempraktekkan aktivitas dirinya mulai dari pergi ke sekolah, pulang dari sekolah dan belajar pada malam harinya. Siswa diminta mengisi LSM

6)      Guru meminta perwakilan seorang siswi putri maju ke depan kelas mempraktekkan aktivitas dirinya tiba di sekolah menggunakan seragam, menaruh tas, menyapu kelas selaku petugas piket. Siswa diminta mengisi LSM

7)      Guru meminta perwakilan seorang siswa putra maju ke depan kelas mempraktekkan aktivitas dirinya menjenguk tetangga yang sakit, ikut kerja bakti membersihkan lingkungan. Siswa diminta mengisi LSM

  1. Konfirmasi

1)      Guru memberikan kesempatan kepada seluruh siswa yang belum memahami, mengerti serta terhambat dalam mengamati drama kecil tadi.

2)      Jika masih ada siswa yang belum paham serta mengerti ,maka guru menjelaskan ulang pada bagian yang tidak dipahami dan dimengerti.

  1. 3.      Kegiatan Penutup
    1. Siswa mencatat seluruh materi atau hal yang dianggap penting saja pada pertemuan kali ini dengan kata-katanya sendiri.
    2. Guru bersama-sama siswa membuat rangkuman atau kesimpulan umum tentang norma dan aturan.
    3. Guru memberikan Proyek Siswa Mandiri dan menjelaskan rincian tugasnya.
    4. Sebelum menutup pertemuan, guru dan siswa berdoa kemudian guru memberikan salam dan meningalkan ruang kelas.
    5. H.     Alat & Sumber Belajar
    6. Al Quranul Karim
    7. Buku Paket PKn 3, Drs. Sunarso,M.Si ; Yudhistira 2009, Hal. 23-34
    8. Lembar Siswa Mandiri & Proyek Siswa Mandiri
    9. Buku 8 Standar Pendidikan
    10. Modul Pelatihan Praktik yang Baik jilid 2, Departemen Pendidikan Nasional 2009
    11. Sepeda.
    12. Lingkungan kelas & sekolah.
      1. I.        Penilaian
        1. Jenis

Tes tertulis.

  1. Prosedur

Penilaian pada akhir pembelajaran.

  1. Soal/instrumen
    1. Lembar Siswa Mandiri
    2. Proyek siswa Mandiri

Catatan Kepala Sekolah :

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tangerang, ……………………………..

Guru Bid. Studi                                                                                                  Kepala SDIT Al Mustofa

Cahyono Al Mansyur                                                                                            Nurhasanah,S.Psi

KESIMPULAN

Dunia pendidikan adalah dunia yang dinamis. Masalah di sekeliling kita berkembang lebih kompleks. Globalisasi membawa dampak-dampak yang positif dan negatif. Eskalasi yang begitu cepat membawa banyak perubahan pada individu-individu yang belum siap untuk perubahan tersebut. Nilai-nilai dan norma bergeser.

Pelajaran PKn di Sekolah Dasar adalah salah satu benteng yang tersisa, tempat dimana nilai, norma dan acuan moral tak bergeming pada tempatnya. Guru sebagai penjaga sekaligus penyemai benih-benih tersebut harus memiliki kapasitas dan kapabilitas, sehingga mampu memilih media tanam (baca: metode pembelajaran) yang baik bagi bibit-bibit pohon yang kelak meraksasa : para putra-putri penerus bangsa.

Kalau mau maju, maka para praktisi dunia pendidikan harus segera meredefinisi visi dan misi, program jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dunia pendidikan harus diisi oleh para pembaharu, bukan pengekor. Dunia pendidikan harus diisi oleh para individu yang menjadikan kecintaannya akan ilmu pengetahuan menjadi dasar pilihannya menjadi seorang guru, sehingga ia takkan pernah berhenti untuk belajar.

Peserta didik akan lebih mudah memaknai nilai dan norma, baik kesusilaan, kesopanan , agama dan norma hukum, apabila mereka terlibat aktif dalam membangun pengetahuannya. Pengamatannya membuahkan pemahaman, pemahaman yang diintisarikan dari serangkaian kegiatan dan menutupnya dengan penilaian yang sesungguhnya.

Guru adalah seorang ‘chef’ pendidikan : sesegar apapun bahan-bahan yang disediakan, takkan mampu menghadirkan hidangan yang lezat jika ia tidak kreatif dan inovatif menciptakan variasi… dan citarasa yang sejati.

Jelang sahur, 9 Agustus 2011

Cahyono Al Mansyur

DAFTAR  PUSTAKA

  1. Al Quran & Terjemahnya;  Departemen Agama RI ;  Penerbit  Diponegoro, Bandung 2005
  2. Modul Pelatihan Praktik yang Baik jilid 2, Departemen Pendidikan Nasional, 2008
  3. Modul CTL, Kemetrian Pendidikan Nasional
  4. Buku 8 Standar Pendidikan
  5. Buku pelajaran PKn 3, kelas 3; Sunarso,Drs,M.Si, Penerbit Yudhistira, 2009
  6. Diktat Perkuliahan : Membangun Budaya Demokrasi; Unis Tangerang

 

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s